Puisi Islami
Jangan kasihan karena kesendirianku
Tak perlu kasihani karenaku kesepian
Kasihani diriku yang tak kuat
beriman
Kasihanilah aku karena dunia tak
memberi teman
Atau tiada kasih kau beri
Hingga terasa tiada nilaiku ini
Karena layak gila aku selalu
tersenyum
Selalu tertawa seakan dunia panggung
lawak
Saat sepi menemani
Saat sadar aku sendiri
Meski ramai sanak kau bawa
Meski pesta gemerlap canda
Tiada arti untuk temanmu ini
Maaf daku beribu kali
Sepilah sungguh arti
Sendiri sadarku penting semua itu
Tak usah kutuk diriku
Atau hujat tanpa tahu kasih
Sudah sering tersiksa sendiri
Sudah lama dingin sepi menghampiri
Hingga melodi indahmu keluar telinga
kiri
Hangat sapamu kudapat tuli
Jangan kasihaniku karena sendiri
Tak juga perlu karena sepi
Karenaku biar sadarmu
Bersyukur banyak teman menerima
Bersujud cinta pernah bersandar lama
Bandingku denganmu
Jangan kasihaniku……
Diantara bait bait do’a harianku
Tergenang airmata airmata rindu
Terselip sesal dan ragu…
Duhai Rabbi yg mutlak kuasai gurat nasibku..
Izinkan hamba jadi apapun yg KAU mau…
……..Asal ENGKAU ridha…
” Ilahi anta maqsudi waridhoka matslubi”
yaa Allah… hanya kepada-MU-lah tujuan akhir hidup kami,
dan hanya ridho-MU yang menjadi dambaan kami…
Tergenang airmata airmata rindu
Terselip sesal dan ragu…
Duhai Rabbi yg mutlak kuasai gurat nasibku..
Izinkan hamba jadi apapun yg KAU mau…
……..Asal ENGKAU ridha…
” Ilahi anta maqsudi waridhoka matslubi”
yaa Allah… hanya kepada-MU-lah tujuan akhir hidup kami,
dan hanya ridho-MU yang menjadi dambaan kami…
Eko nuryadi – di Bumi Allah, Harjamukti-
hari ke 11 juli 2010
menelisik di pinggir kubur hati
ternyata…
“dia tak mati”
menunggu saat yg ditetapkan
lampau …dimasa yg tak teringat
…”dia tak mati”
berdenyut lembut membungkam sunyi
bergumam perlahan pecahkan bisu
“dia tak mati”
hidup dari serpihan serpihan peristiwa pedih
?
ternyata…
“dia tak mati”
menunggu saat yg ditetapkan
lampau …dimasa yg tak teringat
…”dia tak mati”
berdenyut lembut membungkam sunyi
bergumam perlahan pecahkan bisu
“dia tak mati”
hidup dari serpihan serpihan peristiwa pedih
?
Bumi Allah. Cimanggis – Depok 20
Desember 2010.
Eko Nuryadi
Eko Nuryadi
Kemana kan kubawa suara hati ini..?
Sedu sedannya tertahan di relung jiwa
Dimana kan ku tancapkan kepala penuh dosa..?
jika bumi pun mengejek jejak jejak ku di langit coklat….
Sedu sedannya tertahan di relung jiwa
Dimana kan ku tancapkan kepala penuh dosa..?
jika bumi pun mengejek jejak jejak ku di langit coklat….
Roda matahari bergemuruh menandai
pergulatan jiwa
teriknya membabat habis semua harapan.. .
..”nak….hidup ini tak ramah”…
…”Biar kutanamkan bibit pokok rindangan ini untukmu”
…”agar jadi teduhan siapa yg jera terkena terpaan nista.”
teriknya membabat habis semua harapan.. .
..”nak….hidup ini tak ramah”…
…”Biar kutanamkan bibit pokok rindangan ini untukmu”
…”agar jadi teduhan siapa yg jera terkena terpaan nista.”
(Eko Nuryadi …. Cijantung 22 Maret
2011)
Hallo Tuhan, selamat malam
Mari duduk di sini denganku
Sekedar berbincang-bincang ringan
Itupun jika Kau mau berbagi rasa denganku
.
Darimana, Tuhan?
Sudah sekian lama tidak berjumpa
Atau, aku saja yang selalu lupa
Jika Kau itu sesungguhnya selalu ada
.
Ingin minum apa, Tuhan?
Kalau aku sudah cukup segelas panas kopi
Dan juga gula secukupnya saja
Sekedar untuk menyembunyikan pahitnya hidupku
.
Kenapa aku lupa selama ini, Tuhan?
Jika Kau itu selalu ada di sini
Mungkin bagaikan butiran-butiran gula ini
Yang selalu memberikan rasa manisnya suka
.
Hallo Tuhan, selamat malam
Ijinkan aku duduk disini denganMu
Sekedar untuk berbagi cerita akan hari ini
Dan kuyakin bahwa Kau pun punya banyak waktu
.
Darimana aku, Tuhan?
Jika Kau sekedar ingin bertanya
Karna sepanjang siang ini aku berjalan di dunia
Dan lupa kalau Kau itu ada
.
Kusuguhkan sepiring pisang goreng
Sekedar teman segelas kopi
Dan juga teman obrolan akan kita
Syukurlah jika Kau dan aku masih bicara.
.
.
.
Seto Danu
Cogito Ergo Sum
Samarinda.kost. 26.09.06.23:11
Mari duduk di sini denganku
Sekedar berbincang-bincang ringan
Itupun jika Kau mau berbagi rasa denganku
.
Darimana, Tuhan?
Sudah sekian lama tidak berjumpa
Atau, aku saja yang selalu lupa
Jika Kau itu sesungguhnya selalu ada
.
Ingin minum apa, Tuhan?
Kalau aku sudah cukup segelas panas kopi
Dan juga gula secukupnya saja
Sekedar untuk menyembunyikan pahitnya hidupku
.
Kenapa aku lupa selama ini, Tuhan?
Jika Kau itu selalu ada di sini
Mungkin bagaikan butiran-butiran gula ini
Yang selalu memberikan rasa manisnya suka
.
Hallo Tuhan, selamat malam
Ijinkan aku duduk disini denganMu
Sekedar untuk berbagi cerita akan hari ini
Dan kuyakin bahwa Kau pun punya banyak waktu
.
Darimana aku, Tuhan?
Jika Kau sekedar ingin bertanya
Karna sepanjang siang ini aku berjalan di dunia
Dan lupa kalau Kau itu ada
.
Kusuguhkan sepiring pisang goreng
Sekedar teman segelas kopi
Dan juga teman obrolan akan kita
Syukurlah jika Kau dan aku masih bicara.
.
.
.
Seto Danu
Cogito Ergo Sum
Samarinda.kost. 26.09.06.23:11
Jika ketakutan itu ada
dialah makhluk yang membuatku lemah
Jika keberanian itu ada
dialah makhluk yang membuatku kuat
Jika Cinta itu ada
dialah makhluk yang membuatku terlena
dialah makhluk yang membuatku lemah
Jika keberanian itu ada
dialah makhluk yang membuatku kuat
Jika Cinta itu ada
dialah makhluk yang membuatku terlena
Batinku telah lemah oleh ketakutan
kehilangan Dirimu
Jiwaku telah kuat oleh semua keberanian untuk menunjukkan pengabdianku
Aku terlena akan semua Cinta yang engkau berikan dalam cawan
yang berisi anggur kehidupan
Jiwaku telah kuat oleh semua keberanian untuk menunjukkan pengabdianku
Aku terlena akan semua Cinta yang engkau berikan dalam cawan
yang berisi anggur kehidupan
Tiadalah penting bagiku untuk
berfikir tentang aku sendiri
Tiadalah cukup namaku untuk bersanding disampingMu
Tiadalah sandaran hati yang lebih tulus dari CintaMu
Tiadalah cukup namaku untuk bersanding disampingMu
Tiadalah sandaran hati yang lebih tulus dari CintaMu
Rela aku menjalani semua yang fana
ini dengan semua keikhlasan
Jikalau aku telah menjadi abu
Namun ruhku dapat tenang bersanding denganMu
Jikalau aku telah menjadi abu
Namun ruhku dapat tenang bersanding denganMu
Biarlah aku menjadi yang lemah
Namun kuat dan tegar dalam mabuk cinta kepadaMu
Biarlah aku menjadi bisu
Namun Batinku meneriakkan bahwa diriMulah sumber kehidupanku
Biarlah aku buta
Namun jiwaku tetap melihat indahnya kekekalanmu
Biarlah aku mati
Namun hatiku selalu hidup untuk bersanding kepadamu
Namun kuat dan tegar dalam mabuk cinta kepadaMu
Biarlah aku menjadi bisu
Namun Batinku meneriakkan bahwa diriMulah sumber kehidupanku
Biarlah aku buta
Namun jiwaku tetap melihat indahnya kekekalanmu
Biarlah aku mati
Namun hatiku selalu hidup untuk bersanding kepadamu
Saat mata yang indah tak lagi bisa
untuk melihat kenyataan dalam fana
Saat bibir tak mampu berucap, dan hati tak mampu merasa
serta Telingapun seakan tak berguna untuk mendengar semua yang ada disekitar kita
Saat bibir tak mampu berucap, dan hati tak mampu merasa
serta Telingapun seakan tak berguna untuk mendengar semua yang ada disekitar kita
Jika aku hidup untuk seribu tahun
mendatang
Aku takkan meminta lebih untuk hal itu
Jika hidupku memang hanya untuk sehari
Aku juga takkan meminta lebih
Aku takkan meminta lebih untuk hal itu
Jika hidupku memang hanya untuk sehari
Aku juga takkan meminta lebih
semangatku untuk hidup telah pudar
Aku seperti halnya mayat dan tak berakal
yang dibutakan oleh cinta
melebihi cinta ibu kepada anaknya
Aku seperti halnya mayat dan tak berakal
yang dibutakan oleh cinta
melebihi cinta ibu kepada anaknya
Tanah yang kering ini menjadi saksi
bahwa akan menjadi bagian dari sungai air mata
dari kepedihan siksaan cinta ini
semua seperti halnya makhluk yang hanya sebatas tak tahu kemana dia akan berakhir
bahwa akan menjadi bagian dari sungai air mata
dari kepedihan siksaan cinta ini
semua seperti halnya makhluk yang hanya sebatas tak tahu kemana dia akan berakhir
Kini semua peluh telah aku rasakan
derita demi derita telah aku jalani dan tiada yang mengerti
siapa aku ini, bahkan aku sendiripun lupa apa dan siapa aku ini
Deritaku karena hal yang takkan pernah bisa manusia lihat
dan hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar yakin
derita demi derita telah aku jalani dan tiada yang mengerti
siapa aku ini, bahkan aku sendiripun lupa apa dan siapa aku ini
Deritaku karena hal yang takkan pernah bisa manusia lihat
dan hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar yakin
Tidakkah kalian mengerti bahwa tiada
yang salah dengan sebuah kata cinta
Dia begitu indah dan begitu melekat pada diri sebuah makhluk
hanya bisa merasakan, tanpa bisa mengetahui dari mana datangnya!
Dia begitu indah dan begitu melekat pada diri sebuah makhluk
hanya bisa merasakan, tanpa bisa mengetahui dari mana datangnya!
Raut teduh merona,
ditelinga kirimu
terselip kuncup setengah mekar
berwarna putih, saat itu aku lupa
menanyakan nama bunga
yang kau selipkan tiap pagi
dan sorenya kau ganti dengan bunga
yang baru
namun tetap berwarna putih.
Sering kulihat di dahimu tertempel
butir-butir
beras putih, entah berapa biji aku
malu menghitungnya.
setelah engkau khusuk dalam ritual
sajenan pagi dan sore hari
di pura keluarga.
Aku kagum begitu engkau hayati
sebuah spiritualitas,
di tengah gelora kehidupan yang
semakin materialistis,
di antara kerumunan orang memanjakan
nalar dan
berkacak pinggang kepada yang
ruhani.
Aku kagum dengan perlawanan budaya
yang engkau lakukan,
aku tahu engkau tidak membela
keyakinanmu
ditengah hedonisme jaman,
karena engkau hanya menunjukkan
dirimu
yang menegakkan pribadi yang
bertopang pada keseimbangan
alam-diri-sesuatu yang sakral.
Ada terpancar hening wajah dan hati
yang tercerahkan.
tidak perlu engkau membuat jargon
tentang cinta kasih,
yang esa dan tunggal,
karena jauh dari yang orang-orang
katakan
engkau berkata dengan gerak langkah,
ketulusan laku
dan raut wajah dengan senyum diatas
lesung pipimu.
Terima kasih,
lepas dari saat sepekan bersamamu
aku mulai tergerak lagi untuk
bertanya ke dalam diri
tentang yang ruhani, spiritualitas
dan relung-relung
penyadaran yang masih kosong
dan bergema keriuhan dunia yang
hedonis dan penuh kepalsuan.
Ada semangatmu terbawa,
seperti dentang-dentang gaib yang
menandakan waktu
untuk menautkan kesadaran
pada yang sakral, bersatu kepada
yang harmonis
dan tiap kali menyatakan jiwa kepada
semua yang nyata ini
berawal dan berakhir.
Tapi aku masih malu untuk menyebut
nama Tuhan,
(Tuban/Oktober/2010/Katjha)
Tuhan….
Maukah kau mencuci tubuhku
Yang berlumuran noda-noda dosa
Sebelum sang maut membunuhku
Dan membiarkan tubuhku tergeletak tak berdaya
Maukah kau mencuci tubuhku
Yang berlumuran noda-noda dosa
Sebelum sang maut membunuhku
Dan membiarkan tubuhku tergeletak tak berdaya
Ketika ku di alam sana,
Apakah kau akan menelantarkanku?
Membiarkan kata-kata tajam menusuk dan mencabik-cabikku
Membiarkan suara-suara jahat terus mengurungku
Aku bukanlah orang yang mau terbakar di neraka
Namun, pantaskah aku mereguk nikmatnya surga?
Tapi…. kuharap
Saat sang mentari tak lagi menyapa
Saat itulah surga tak lagi kupandang sirna….
Dan neraka hanya menjadi fatamorgana
Apakah kau akan menelantarkanku?
Membiarkan kata-kata tajam menusuk dan mencabik-cabikku
Membiarkan suara-suara jahat terus mengurungku
Aku bukanlah orang yang mau terbakar di neraka
Namun, pantaskah aku mereguk nikmatnya surga?
Tapi…. kuharap
Saat sang mentari tak lagi menyapa
Saat itulah surga tak lagi kupandang sirna….
Dan neraka hanya menjadi fatamorgana
Nduk,…Kemarin datang selembar hari
yang tercatat.
…mungkin sudah lama sekali… bukan kemarin
Tapi tak apa,…tak banyak berbeda.
…mungkin sudah lama sekali… bukan kemarin
Tapi tak apa,…tak banyak berbeda.
Hanya…
..ada yang tersekat diantaranya
Mungkin setangkai melati, atau segenggam bunga rumput
..ada yang tersekat diantaranya
Mungkin setangkai melati, atau segenggam bunga rumput
Nduk,…Besok datang secarik hari yang
terlempar.
Mungkin sudah berulang kali,…bukan sekali ini.
…tak apa,..tak banyak berbeda.
Mungkin sudah berulang kali,…bukan sekali ini.
…tak apa,..tak banyak berbeda.
Hanya..
Ada yang tersekat diantara kemarin dan esok.
Mungkin matahari kan menyapamu lebih mesra
Mungkin rumput pinggiran trotoart kan lebih sering menggodamu
…Berbahagialah dengan itu semua..
Ada yang tersekat diantara kemarin dan esok.
Mungkin matahari kan menyapamu lebih mesra
Mungkin rumput pinggiran trotoart kan lebih sering menggodamu
…Berbahagialah dengan itu semua..
Eko Nuryadi
Bumi Allah-Surabaya November 1990
Bumi Allah-Surabaya November 1990
Yaa ALLAH …berlinang air mata hamba
saat ini….
Bertanya bathin hamba ini….
Bagaimanakah pandangan ENGKAUÂ
pada hamba saat ini…?
Terlalu ngeri hamba tuk
membayangkannya…
Yaa ALLAH…sedemikian kelam jiwa
hamba terbalur dosa….
Adakah pantas tuk bersujud di duli
TUAN TUHAN SEGENAP ALAM…???
Yaa RABB…masih pantaskah diri ini
menghambakan diri pada MU ??….
Sedangkan hampir di setiap saat diri
ini menjadi
hamba nafsu…
hamba harta..
hamba syahwat…
hamba angkara murka..
dan hamba dunia…
dan hamba-hamba selain ENGKAU..????
Yaa ROHMAAN Yaa ROHIIM…masih
berkenankah ENGKAU dengar dan kabulkan apa yg hamba pinta ??
Saat ini…
hamba mohon dengan segenap jiwa raga
yg dalam genggam-MU YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG….;
“Peliharalah kerinduan di batin ini
akan belaian karuniamu…
walau tak pernah kurang karunia MU.”
“Jangan tinggalkan hamba walau hanya
sesaat”
“Jadikanlah apa yg menjadi
keridlo’an MU adalah Keridlo’an hamba juga”
Kuhadapkan hati, jiwa ragaku
kehadiratMu
Seraya syukur memuja asmaMu
Mengemis sepucuk padi, mengiba
sepancar sinar
Sejuk hati, tentram jiwa, kala damai
kian membelai
.
Namun ketika asap hitam kian menebal
Asap keindahan, kepedihan dan
kegelapan
Meski ku berdiri tegap, segalanya
bertabrakan
.
Ketika segumpal hawa berkobar dalam
dada
dipacu segelintir mahluk api hina
Secuil takwa tenggelam diaduk darah
yang mengalir dalam
Bagai tiada arti segenggam iman
memeluk kalbuku
.
Aku seorang hamba yang tak kenal
pahit dunia
Yang kutahu hanyalah sinar yang
menyilaukan, menutup mataku
Ya Rabb, beri aku jalan, beri aku
tangan
Kugapai bulanMu dalam gelap malam
.
Maret 2009
Ada apa dengan semua ini
Aku tak tau
Mengapa semuanya terjadi pada diriku
Aku tak tau
Apakah semua yang benar-benar kita
dambakan harus dilalui seperti ini
Aku tak tau
Mungkinkan semua dibalik kejadian
ini akan mendapatkan apa yang aku inginkan
Mudah-mudahan begitu
Oh… Tuhan…
Tunjukkanlah jalan-Mu
Jalan kebahagian yang dirido’I
oleh-Mu
Kuatkan lah diriku untuk melalui
semua ini
Tersudut berlinang diujung kamar
berdebu
Berselimut hangat karma yang
menyiksa
Tak kuasa berpaling tuk menghindar
Derita terus mendera, menempa,
menindih dari segala arah
Tak ingin kusesali
Namun wajar sakit ini meminta
sedikit air mata
Hingga hampir kering jelaga rasa
pelipur jiwa
Ragaku teguh namun tidak jiwaku
Tuhan semakin sakit saat namaMU
terucap
Dari pecah rongga bibir berdarah
Kenapa kau benci aku, berucap pun ku
hanya bisa tuk bertanya
Semua bicara tentang Engkau yang
penuh asih
Penuh cinta dan kedamaian
Tapi……
Adakah akan asih buatku? Jika Kau
cipta bayangpun berkhianat didepanku
Sebatas mana kan kaucoba diriku
Apa hingga udara juga ikut bersekutu
tuk membenciku?
Jika memang benar begitu adanya
Kubisa hanya berterima kasih karena
kutahu rahasiaMU
Karma ini kan kembali menghiburku
Mungkin nanti…….
Aku kecewa pada diriku sendiri
Kecewa tidak bisa mandiri
kecewa tidak bisa menyelesaikan
masalah sendiri
kecewa karna harus tergantung orang
lain
kecewa karna harus dibimbing orang
lain
kecewa karna harus di ajar orang
lain
kecewa karna tidak bisa
membahagiakan orang lain
kecewa karna meresahkan orang lain
kecewa karna menyakitkan hati orang
lain
kecewa karna tidak bisa mendapatkan
cinta sejati
Mungkin semua ini terjadi?
ya . . . benar . . . memang terjadi
mungkin karna aku takut
mungkin karna aku bodoh
mungkin karna aku tidak percaya diri
mungkin karna aku banyak berbuat
dosa
atau juga karna aku ditakdirkan
begini
yang jelas aku tak tau mengapa semua
ini terjadi
Ya . . . Allah . . .
mengapa semua terjadi pada diriku
mengapa . . . ? mengapa . . . ?
berilah aku jawaban
berilah aku petunjuk-Mu
berilah aku jalan keluar dari semua
ini
biar orang lain tidak merasa
disakiti atas kehadiranku
Suatu hari . . .
terlintas dipikiranku untuk akhiri
semua ini
agas semuanya berakhir
tapi . . . tapi . . .
karna aku masih mau berbuat yang
lebih baik untuk orang lain
Ku benci kamu
Sungguh sederhana tapi tak mampu
terbahasakan
Pilu rasa saat bicara, membara, lalu
dingin seketika
Hidup denganmu bak dineraka hanya
itu kupunya tuk mewakili
Sungguh sederhana hingga saat bicara
ku tak lagi rasa apa-apa
Karena kusadar kau hanya datang
untuk sementara
Andai tak ada besok mungkin ku kan
bahagia
Tak perlu mencumbumu, merayumu,
mengingatmu
Meski kau mencibir,menghujat dan
meragukanku
Kuingin ini berakhir tapi tak
kulihat ujung
Kini kusadar bukan raga yang
menolakmu
Tapi jiwa dan nafasku
Untuk itu mesti pilu ku kan slalu
ada disampingmu
Kau tampak lusuh dan berdebu
Ruat-ruat garis hitam merona kelopak
matamu
Ku tahu kau lelah ayah…..
Saat senja kau duduk termenung
menatap jalanan
Yang selalu menghantarkan keping
pemberi kehidupan
Ketika kantuk menyerang kau tetap
tegar
Ku tahu kau lelah ayah
Malu aku menawarkan ranjang yang
tersisa
Atau mengantar diri terlelap lebih
awal
Tiap malam beserta doa kuberharap
“Tuhan murahkan rejeki ayahku
Jagakan sehatnya, jauhkan darinya
mara bahaya
Dan jika nanti Kau meminangnya
kembali
Tempatkanlah ia disisi-Mu”
Warna pelangi bersetubuh, kerapkali
gaduh
Roh tujuh nada bersulang seluruh
Inginnya langit menabuh
guruh-gemuruh
Sida-sida mengepak surga sampai utuh
Titah Raja nafas para nabi
Pangeran meneguk cawan pekat,
menerjemahkan sempurnanya cinta
hingga berdoa dan berdarah dibalik
serambi
lantak melafazkan cinta.
TUHAN ,
ajarku mengerti apa yang terjadi ,
disaat semua pergi , agar aku tak sepi .
TUHAN ,
bimbing aku menata semua yang tercipta ,
agar segala terbina , tanpa sayatan asa .
TUHAN ,
pimpin aku menatap derita yang akan hadir ,
tuk jadikan kedewasaan menjadi di diri .
TUHAN ,
biarkan aku mengecap duka sebanyak yang Kau sedia ,
namun jangan tinggalkan aku sendirian , berjuang ..
ajarku mengerti apa yang terjadi ,
disaat semua pergi , agar aku tak sepi .
TUHAN ,
bimbing aku menata semua yang tercipta ,
agar segala terbina , tanpa sayatan asa .
TUHAN ,
pimpin aku menatap derita yang akan hadir ,
tuk jadikan kedewasaan menjadi di diri .
TUHAN ,
biarkan aku mengecap duka sebanyak yang Kau sedia ,
namun jangan tinggalkan aku sendirian , berjuang ..
Hari ini kulihat bunda
Termenung termangu
Ada apa?
Saat bicara air mata berlinang
Salahkah aku bunda ?
Kukejar cinta terlarang
Tapi apa daya……………….
Andai bunda mengerti
Tak Cuma bahagia kudapat
Tangis pun ada
Kenapa kubertahan bunda
Kurasa cinta
Jangan salahkan aku lagi
Aku muak tapi tak benci
Bunda jangan pasung aku
Dengan derita yang pernah terasa
Bunda garisku berbeda
Telapak , kepala hingga raga
Biar aku bebas aku tau jalanku
Bila benci bunda tak terelakan
Aku mohon jangan pernah tolak
sujudku
Biarkan aku memujamu
Karena selalu dilubuk hatikku
Ditiap linang air mataku
Ditiap tutur bahasa mulutku
Bunda selalu menjadi surgaku
Hati menyapai
hati ini mengingati
tentang dicintai
nilai dikasihi..
hati ini mengingati
tentang dicintai
nilai dikasihi..
Ingin sangat disayangi
betapa indah nilai cinta suci..
betapa indah nilai cinta suci..
Ku kembali tanya hati
benar engkau ingin rasai?
hangat cinta kerana disayangi?
benar engkau ingin rasai?
hangat cinta kerana disayangi?
Wahai kepalan hati
jangan diimpi
jangan diingini
sirr cintaNya hanya untuk yang dikasihi..
jangan diimpi
jangan diingini
sirr cintaNya hanya untuk yang dikasihi..
Siapa kekasihNya???
Puisi kiriman dari putihitam (el_khairu@…)
Gugah…Hatiku gugah menderah
Ditengah sepi mencekam dikelilingi kabut hitam kelam
Pekat…sungguh pekat tak terlihat setitikpun
Hanya ada aku dan tubuhku
Beribu-ribu bintang dan secerca cahaya bulan
Tak mampu mengalahkan kegelapan dihatiku
Hanya terdengar suara rintihan alam yang berbisik
Seolah membicarakan aku
Sampai tak terdengar semakin menjauh
Alunan nada nafasku masih melekat ditubuhku
Dan tak terasa sang waktu selalu menanti
Begitu luas hamparan gelap membayang di benakku
Hingga aku berlari mencari sudut
Akhirnya…Aku temukan titik cahaya
Cahaya yang membebaskan aku dari gelap dan sunyi
Tapi semakin berat aku melangkah semakin dingin kurasa
Terang membuat kelopak mata turut menunduk
dan ramai suara alam pun saling menyahut
Aku terus dan terus menerobos hingga nafas terakhirku
Saat kuangkat kelopak mata suruhan hati
Ternyata aku meninggalkan ragaku
Ajal menjelang, Allah memanggilku
Ditengah sepi mencekam dikelilingi kabut hitam kelam
Pekat…sungguh pekat tak terlihat setitikpun
Hanya ada aku dan tubuhku
Beribu-ribu bintang dan secerca cahaya bulan
Tak mampu mengalahkan kegelapan dihatiku
Hanya terdengar suara rintihan alam yang berbisik
Seolah membicarakan aku
Sampai tak terdengar semakin menjauh
Alunan nada nafasku masih melekat ditubuhku
Dan tak terasa sang waktu selalu menanti
Begitu luas hamparan gelap membayang di benakku
Hingga aku berlari mencari sudut
Akhirnya…Aku temukan titik cahaya
Cahaya yang membebaskan aku dari gelap dan sunyi
Tapi semakin berat aku melangkah semakin dingin kurasa
Terang membuat kelopak mata turut menunduk
dan ramai suara alam pun saling menyahut
Aku terus dan terus menerobos hingga nafas terakhirku
Saat kuangkat kelopak mata suruhan hati
Ternyata aku meninggalkan ragaku
Ajal menjelang, Allah memanggilku
Dikirim oleh:
Riski Gultom (aruun_shabir@….)
Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi
meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan…
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan…
.
Istri, belahan hati, belahan jiwa
pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.
.
Istriku menangis, sangat pedih, aku
pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan…
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan…
.
Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma’af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri…
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma’af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri…
.
Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja…
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja…
.
Aku harus berkeliling, memohon ma’af
pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi
.
Aku harus kembalikan, semua harta
kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu
.
Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu ,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka…
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu ,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka…
.
Begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu…
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu…
.
Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma’afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan…
dan semua menjadi tak terma’afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan…
Diambil dari :
http://renirosari.staff.ugm.ac.id/puisi.htm
Suara suara binatang malam
Menambah khusyu kubaca kalam
Mencari arti hidup
Saat nur Ilahi kian meredup
Menambah khusyu kubaca kalam
Mencari arti hidup
Saat nur Ilahi kian meredup
Hidupku mencari mati
atau bergelimang harta dalam peti
Nista
Dan binasa
atau bergelimang harta dalam peti
Nista
Dan binasa
Terbang di atas derita dalam jiwa
Lalu melayang mengawang kecewa
Bersujud
tanpa wujud
Lalu melayang mengawang kecewa
Bersujud
tanpa wujud
Ya Rabbi,
Ya Rabbi,
Jengah di tengah aku yang lengah
Dendam dipadam kau yang menggenggam
Ya Rabbi,
Jengah di tengah aku yang lengah
Dendam dipadam kau yang menggenggam
Kuharap nur
Untuk ikuti jiwa jiwa yg tlah gugur
Biar nanti binasa
Matiku tak hanya bawa dosa
Untuk ikuti jiwa jiwa yg tlah gugur
Biar nanti binasa
Matiku tak hanya bawa dosa
Menggila dalam liang lahat
Terkubur bersama beribu ribu subuhat
Dalam agama menjadi jahil
Dalam harta dan nyawa terlebih bakhil
Terkubur bersama beribu ribu subuhat
Dalam agama menjadi jahil
Dalam harta dan nyawa terlebih bakhil
Genggam hatiku dalam Din-Mu
Sertakan ragaku dalam rencana-Mu
Jadikan hamba manusia penuh syukur
Tundukan jiwa bersujud dan tersungkur
Sertakan ragaku dalam rencana-Mu
Jadikan hamba manusia penuh syukur
Tundukan jiwa bersujud dan tersungkur
Biar kugali sukma
Biar kemenangan yang menggema
Beri hamba pembeda
Dari fitnah yang tak kunjung reda
Biar kemenangan yang menggema
Beri hamba pembeda
Dari fitnah yang tak kunjung reda
Berilah hamba kesempatan;
Tunjukilah jalan kebaikan;
Tunjukilah jalan kebaikan;
aku menggapai matahari
mendaki waktu yang segan berhenti
mengintai bulan walau diselimuti
kabut
menyulut api dalam badai
mencari terang
walau hidup tak harus
berakhir dengan pencerahan
tuhanku adil,,
tuhanku bijaksana,,
ia beriku derita dan bahagia,,
meski kadang aku bimbang…
tuhanku bijaksana,,
ia beriku derita dan bahagia,,
meski kadang aku bimbang…
kasihnya Esa,,
sifatnya Rahman,,
hidupku damai dengan nama-namanya,
dan memberiku semangat hidup..
sifatnya Rahman,,
hidupku damai dengan nama-namanya,
dan memberiku semangat hidup..
hingga aku dapat tegar dalam hidup
karnanya,
karna ia yang memberiku cinta di dunia
untuk bekal bahagia di syurga…
karna ia yang memberiku cinta di dunia
untuk bekal bahagia di syurga…
meski terasa siksa di dunia,
jika kuingat namanya indah duniaku
Allah adalah penyegarku di tumpuan tawakkalku
dan Muhammad adalah junjungan agamaku
jika kuingat namanya indah duniaku
Allah adalah penyegarku di tumpuan tawakkalku
dan Muhammad adalah junjungan agamaku
serta islam adalah hidupku…
allahu akbar!!

Kawan…
Bila aku pulang terlebih dahulu
Janganlah kalian cari aku
Karena aku sedang sibuk dengan
TUHAN-ku
Dan janganlah kalian terus mencari
Karena aku pergi…
Bukan untuk bersembunyi
Dan bila kalian ingin temui aku…
Pergilah menuju hati
Dengan melewati jalan QOLBU
Karena aku hanya inginkan
Senyum yang tulus dari raut wajah
kalian
Untuk setiap jejak langkahku
Karena langkahku yang berikutnya
Akan lebih memberatkan
Karena hidupku akan terus
berlanjutkan
Untuk suatu hal yang teramat KEKAL
Tapi untuk sedikit waktu saat
kumulai pergi
Langkahku akan sedikit terpejamkan
Karena tempat persinggahanku teramat
kecil
Tetapi akan terasa sangat luas
Oleh seluruh waktu dalam hidupku
Yang tertuliskan dalam sebuah
catatan untukku
Catatan-catatan yang akan
dipertanggung-jawabkan kepada TUHAN-ku
Catatan-catatan yang akan kujadikan
bekal dimasa depan
Maka telah kutuliskan pesan untuk
kalian
Ku titipkan seluruh nyanyian dan
tulisan
Karena aku tidak akan menutup mata
Hanya untuk sekedar tinggalkan
tempat bermain kita
Jagalah seluruh nyanyian
Dengan tetap dikumandangkan
Jagalah seluruh tulisan
Dengan segenap hati kalian
Karena itu adalah hiasan
yang aku punya disamping kalian
Wahai kawankku…
Aku rasa aku akan merindu
Ketika Bahagia saat bersamamu
Ketika kalian peduli akan tangisku
Ketika kita berjalan bersama
Untuk Mengejar semua mimpi-mimpi
kita
Dan ketika cinta kita terhentak
Oleh sebuah senyuman yang membatu
Tapi lupakan-lah…
Bila tangis kalian adalah untukku
Aku hanya inginkan senyuman
Bila dalam kenangan kalian
Aku dikatakan sebagai seorang KAWAN
Dan untuk cinta yang ku anggap
sebuah kesempurnaan
Janganlah munculkan arti penyesalan
Karena ini adalah akhir
Dengan sebuah jalan kenangan yang
tak akan berakhir
Kawan…
Aku Pamit…
Hanya dengan ditemani seutas kain
putih
Yang akan membalut tubuhku yang
abadi…
Waktuitu
Aku masih ketawa sama
Temen temen dikantin
Nggak tau kalau aku
Bakal berdarah
Perutku juga tuh sobek
Hu..hu.. hu…
Kamu…kamu nggak apa-apa…?
Saya bawa ke rumah sakit, ya…
Aku nggak mau mati dulu
Kumasih mau hidup didunia
Kumasih…sembilanbelas
Nggak ada yang bisa mencegah
kematian…
Kubelum sholat
Kubelum….sho……..lat
by Prisca Primasari
Subuh itu….
Sejuk dan dinginku hangat….
Di dampingi seorang wanita bernama isteri…
Di bibirku menguntum senyuman paling indah…
Dengan gelagak anak kecil bernama anak….
.
Subuh itu….
Terlalu indah…. hanyut dalam impian mimpi…
Impian harapan yang terputus di jalanan…..
Dalam gema doa bertali… setelah wajib dan sunatku….
Dalam sejuk, dingin dan hangat alam….
.
Subuh itu….
Celik ku payah… Bangkitku pulas…
Lenaku enak… Terbuai mimpi indah….
Sayang kutinggalkan beradu, sayang kutinggalkan mimpi..
Ku gempal janji seorang hamba. Ku cari tulus dalam diri..
Disaat laungan sayup azan kalimah terahir…
Sejuk dan dinginku hangat….
Di dampingi seorang wanita bernama isteri…
Di bibirku menguntum senyuman paling indah…
Dengan gelagak anak kecil bernama anak….
.
Subuh itu….
Terlalu indah…. hanyut dalam impian mimpi…
Impian harapan yang terputus di jalanan…..
Dalam gema doa bertali… setelah wajib dan sunatku….
Dalam sejuk, dingin dan hangat alam….
.
Subuh itu….
Celik ku payah… Bangkitku pulas…
Lenaku enak… Terbuai mimpi indah….
Sayang kutinggalkan beradu, sayang kutinggalkan mimpi..
Ku gempal janji seorang hamba. Ku cari tulus dalam diri..
Disaat laungan sayup azan kalimah terahir…
Subuh itu…
ku bankit dengan kalimah…
Astagfirullah..hal’adzim, Astagfirullah..hal’adzim…
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar….
Lailahaillallah Muhammadarrasulullah
Syukur Alhamdulillah……
Hanya padamu aku berserah ya Allah….
ku bankit dengan kalimah…
Astagfirullah..hal’adzim, Astagfirullah..hal’adzim…
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar….
Lailahaillallah Muhammadarrasulullah
Syukur Alhamdulillah……
Hanya padamu aku berserah ya Allah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar